Friday, October 18, 2013

Sentuhan Kecil Yang Bermakna

Assalaamualaikum warohmatullahi wabarakatuh

Ini adalah kisah nyata yang saya dapat dari forum tetangga.semoga bermanfaat.

Selamat pagi buat sahabat semua, Ijinkan saya berbagi kisah dan pengalaman, semoga apa yang saya alami bisa jadi pelajaran dan bermanfaat untuk sahabat yang lain.

Saya adalah seorang suami, mempunyai seorang istri yang telah saya nikahi selama lebih kurang 16 tahun dan dikaruniai anak2 yang sehat dan cerdas. Menurut orang-orang di sekeliling kami, kami adalah pasangan yang serasi dan ideal. Karena selama menikah kami gak pernah kelihatan bertengkar hebat apalagi sampai org lain tau. Sebetulnya bukan karena kami tidak pernah bertengkar, namun apabila itu terjadi kami sepakat tidak akan pernah melakukan di hadapan orang lain apalagi anak-anak. Kami biasanya menyelesaikan masalah kami berdua dalam kamar hingga tuntas sehingga setelah keluar dari kamar, masalah sudah selesai.


Dilingkungan pekerjaan, saya merupakan seorang pekerja dgn prestasi yg gemilang, karir yang melesat, menjadi tolok ukur bagi teman sejawat dan bawahan bila ingin berhasil. Demikian pula bidang ekonomi, boleh dikata bahwa kehidupan ekonomi kami berada di atas rata2 teman2 kami seangkatan, karena saya selalu mendapatkan posisi penting dan strategis dimanapun saya bekerja. Sementara Istri saya adalah seorang muslimah yg cantik, sangat taat beragama, sangat periang, ceria dan sangat sayang keluarga, terutama sayang kepada saya. Jadi boleh dikata bahwa kami merupakan pasangan yang nyaris sempurna
Tapi  menurut istri saya, saya ini merupakan suami yg cuek, tidak romantis, cenderung apatis bahkan tidak pernah mau tau apapun keinginannya.  Jangankan memberi perhatian atau hadiah, Bahkan hari ulang tahunnya pun saya sering lupa, apalagi hari ultah perkawinan, ultah ibunya atau ultah anak2 ataupun momen2 penting lainnya saya sering lupa. Namun bagaimanapun jeleknya sifat saya, dia tetap sayang dan cinta kepada saya karena satu alasan yaitu saya tetap "pegang komitmen"
Sungguh saya sangat beruntung bisa mendapat istri seperti dia. Sudahlah cantik, sholehah, pintar dan cinta banget sm sy suaminya. Begitu cintanya ke saya, hingga apapun yg dia miliki rela dia lakukan dan berikan buat saya, termasuk masa depannya karena dia saya nikahi diusia yg sangat muda. 

Tapi setahun yang lalu rumah tangga kami diguncang badai. Badai itu terjadi karena ulah saya sebagai suami yg telah melanggar komitmen rumah tangga kami. Begitu besarnya masalah yg kami hadapi sehingga saya sendiri tidak pernah menduga bila istri sy yg selama ini begitu manis, lembut dan manja kepada saya berniat menggugat cerai.

Bagai petir disang bolong, terus terang saya syok, kaget dan bingung mendengar istri saya mengatakan maksudnya ingin pisah dari saya. Saya sama sekali tidak pernah menyangka hal itu akan terjadi, bahkan sy pernah sesumbar bahwa itu merupakan hal yg mustahil dia akan lakukan krn saya tau dia sayang dan cinta banget sm saya. 

Namun kenyataan berbicara lain, dia tetap berpegang teguh pada putusannya. Krn dia menganggap saya sdh tidak pantas lagi menjadi imam dan pemimpin keluarga yg akan bisa memelihara dan menjaga mereka dari api neraka. Saya sama sekali tidak pernah membayangkan rumah tangga kami akan berakhir dengan perceraian. Saya sangat menyayangi dia dan anak-anak, tetapi kesalahan saya juga fatal hingga dia tetap bergeming pada pendiriannya...

Dalam kalut, sedih, galau dan beribu perasaan gak menentu saya kemudian merenung dan berpikir, apa yg telah saya lakukan selama 16 tahun berumah tangga, apa yg telah saya perbuat dan apa yang pernah saya lakukan utk rumah tangga kami. 
Merenung ttg makna rumah tangga merupakan Satu hal yang selama ini tidak pernah saya lakukan, krn selama ini saya merasa semua baik2 saja. Hasil saya merenung awalnya saya merasa apa yang dia lakukan adalah wajar sbg seorang istri yang merawat dan membesarkan anak2 sementara saya bertugas mencari nafkah buat mereka. Namun setelah saya renungkan lebih dalam lagi ternyata banyak hal yang telah saya abaikan dalam berumah tangga. Selama ini saya gak pernah mau  tau apa yg dia rasakan pada saat mengurus keluarga. Yang saya tau Semua serba beres tanpa tau apa yang dia perbuat dan semua telah berjalan sebagaimana mestinya. Dengan dalih sibuk bekerja saya menyerahkan semua kepada istri saya, termasuk dalam membesarkan anak-anak, saya tidak pernah ikut campur dan ambil bagian disitu. Saya baru sadar bahwa anak2 saya ternyata sudah besar dan beranjak dewasa dan dekat sekali dengan ibunya. Saya baru sadar bahwa selama ini saya begitu banyak menghabiskan waktu  dengan teman- teman, kolega saya dan hanya menyisakan sedikit buat mereka. Saya buang waktu percuma dan baru saya sadari setelah kami ada masalah saat ini. Ditambah lagi dengan sifat cuek dan apatis saya sehingga sering mengabaikan hal-hal kecil dan sepele yang justru dia suka. Menurutnya satu satunya alasan dia bertahan adalah komitmen saya dalam berumah tangga, namun ketika komitmen itu dilanggar dia mengatakan tidak ada lagi alasan baginya untuk bertahan dan ini  merupakan hasil serta buah karya saya selama ini.

Dalam kemelut yg luar biasa, Tuhan ternyata menunjukkan kuasanya kpd kami. Entah bagaimana caranya, pd saat berkunjung ke rumah org tua, istri sy menemukan buku MUB dan kami akhirnya dipertemukan dgn pak Kepsek.  Sebetulnya tujuan awal istri sy ketemu dgn pak Kepsek adalah untuk mencari pembenaran (justifikasi) thd langkah yg akan dia ambil yaitu "perceraian". Dia justru akan bertanya langkah apa yang akan dia ambil bila akan melakukan perceraian.  Namun Alhamdulillah  Istri sy ketemu "orang yg salah". Org itu justru meminta istri saya memberikan waktu buat saya utk berproses. Termasuk istri saya juga diminta untuk melakukan hal yang sama. Awalnya dia sempat protes dengan apa yang disampaikan oleh pak Kepsek, namun akhirnya kamipun melakukan proses bersama.

Berproses ternyata tidak semudah yg saya kira. Butuh pengorbanan, tekad dan kemauan yang luar biasa bagi istri saya maupun sy sendiri.  Karena banyak hal yang saya alami yang betul2 diluar dugaan terjadi terhadap saya. Namun karena saya memang ingin mempertahankan rumah tangga saya, apapun resikonya akan saya hadapi. 

Ditengah proses yg sy lakukan, Tuhan seperti membalik situasi, hati dan perasaan kami berdua.  Entah kenapa istri yang dulu sayang dan sangat perhatian kpd saya, sekarang jadi dingin, cuek dan begitu acuh kpd saya. Namun sebaliknya, saya malah semakin sayang dan cinta sama dia. Saya merasa seperti jatuh cinta lg kpd istri saya namun cinta itu seperti bertepuk sebelah tangan. Banyak lagi perasaan yang tidak nyaman saya rasakan selama berproses, namun ini merupakan harga yg harus sy bayar dan korbankan utk mendapatkan kembali cintanya.  Saya akan  melakukan apapun asalkan rumah tangga kami tetap utuh.

Dengan tekad yg sangat besar utk meraih kembali kebahagiaan saya yg hilang, diringi dengan doa sepanjang waktu dan bimbingan pak Kepsek, sy terus berproses. Banyak sekali ilmu dan hal baru dalam berumah tangga yg saya dapatkan. Mulai bagaimana menjadi seorang ayah, menjadi seorang kepala rumah  tangga hingga menjadi imam dalam keluarga. 

Setelah lebih kurang setahun saya berproses, situasi mulai membaik walaupun suasana rumah tangga kami belum pulih seperti dulu. Beberapa tindakan yang saya lakukan sdh bisa menyenangkan hatinya, beberapa tindakan yg kecil namun sangat berarti bagi dirinya.


Seperti yg saya alami beberapa waktu yg lalu. 
Ceritanya sepulang dari kantor sy sengaja mampir ke sebuah toko elektronik dekat rumah, membelikan "rice cooker" utk dia krn sdh bbrapa hari dia mengeluh kalau rice cooker yg biasa kami pakai dirumah sudah mulai rusak. Sesampai dirumah dia sangat kaget mengetahui apa yg saya lakukan. Dia sama sekali gak pernah sangka saya mau melakukan itu untuk dia. Yang terjadi selanjutnya adalah, dia secara spontan bangkit dari tempat dia duduk, memeluk saya dan memberikan ciuman hangatnya di pipi kanan dan kiri saya.  Saya yang justru tidak menyangka sama sekali akan menerima perlakuan ini dari istri saya. Terus terang sy agak kaget tapi senang dan bahagia mendapatkan apresiasi ini.  Pelukan dan ciuman tulus yg sudah hampir setahun tidak pernah saya dapatkan darinya.  Itulah kemesraan yang sangat saya rindukan dari dirinya, kemesraan yg dulu sering saya dapat darinya namun selama setahun ini telah menghilang dari dirinya. Sungguh saya tidak menduga akan mendapatkan itu lagi justru hanya karena melakukan hal kecil.  Sungguh saya baru merasakan betapa berharganya sebuah perbuatan kecil terhadap dirinya, namun akan sangat berarti bila itu menyenangkan hatinya.

Selanjutnya Sayapun berandai andai..
Seandainya saja dari dulu sy tetap pegang komitmen..
Seandainya saja dulu saya open, saya romantis, saya perhatian dan meluangkan waktu lebih banyak utk keluarga.

Seandainya..
Seandainya..
Seandainya...
Betapa bahagianya saya saat ini...
Semoga saya bisa mencari dan memanfatkan momen momen yang lain untuk membahagiakan istri saya..

Semoga bermanfaat....

Dari saya, seorang suami yg sedang berproses...

0 comments:

Post a Comment