Friday, October 18, 2013

Perkenalan Itu Hanya Topeng Belaka

Catatan kali ini, saya ambil dari sebuah salah satu website yang penuh inspirasi. kisah nyata ini dipaparkan oleh teh fufu dan kang kamil semoga bisa diambil hikmhnya :)

Perkenalkan saya Garuda, seorang pria yang sedari kecil bisa dibilang begitu pemalu. Ayah dan Ibu juga mendidik saya dengan baik, bahkan tanpa pernah melakukan kekerasan apapun terhadap saya. Ibu dan Ayah yang begitu halus budi terhadap anak-anaknya, membuat saya juga cenderung lebih pendiam, bahkan katanya terlalu “baik”, karena saya jarang ‘menolak’ permintaan seseorang. Saya takut membut orang tersinggung, sehingga bila ada yang meminta bantuan apapun pada saya, pasti saya akan usahakan membantunya. Seperti juga kala itu…

Ketika itu usia saya sudah siap menikah, kemudian saya minta guru ngaji saya untuk mencarikan calon pendamping. Hingga akhirnya diproseslah saya bersama seorang wanita yang direkomendasikan guru ngaji saya tersebut. Membaca CV lengkap wanita tersebut, saya kira tak ada masalah berarti, maka saya beranikan diri melanjutkan prosesnya. Wajah wanita itu pun cukup menarik, sehingga menambah kecenderungan saya padanya. Hanya saja, sedari awal saya merasakan “suatu ganjelan” yang entah itu apa. Saya merasa ada yang ditutup-tutupi wanita tersebut saat kami sedang taaruf. Tapi, perasaan tersebut saya kubur dalam-dalam, karena saya percaya pada guru ngaji saya. Sami’na wa atho’na, saya dengar dan saya lakukan, bismillah  proses saya dan wanita tersebut pun berlanjut hingga pernikahan.

Seminggu dua minggu menikah, rasanya masih begitu bahagia. Saya merasa bahwa yang mejadi istri saya itu adalah orang yang tepat bagi saya.Namun seiring waktu berjalan, ‘keganjalan’ saat taaruf yang saya rasakan, mulai memunculkan jawaban, membuka ‘topeng sebenarnya’ istri saya tersebut. Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, enam bulan, bahkan satu tahun pernikahan, saya mencoba menjalaninya, meski sakitnya hati saya ini. Saya ngebatin banget. Saat kelahiran putra pertama kami saya kira akan membuat ia berubah, tapi ternyata tidak, tetap saja.

Kala itu saya sempat curhat pada guru ngaji saya, meskipun tak sepenuhnya karena saya takut ‘membuka aib’ istri saya. Namun guru ngaji saya selalu menyuruh saya untuk ‘bertahan’ dan sabar, sabar, sabar… Hingga tahun kedua pernikahan kami, saya sudah tidak sanggup lagi, maka saya memberanikan diri untuk menceraikannya.

Alhamdulillah… syukur yang saya ucapkan kala itu, karena jujur selama dua tahun pernikahan, saya sangat TERSIKSA. Wanit yang saya nikahi adalah orang yang sangat “kasar”, mulai dari perkataannya, tingkah lakunya, hingga pemikirannya. Ia tak segan-segan selalu berteriak di depan saya, berani menyuruh saya melakukan semua pekerjaan rumah, dengan perkataan yang sangat kasar. Belum lagi kebiasaannya bertengkar dengan tetangga, berani marah pada ibu saya, juga berani memukul dan memperlakukan kasar anak kami meskipun ia masih bayi.

Saya tak tahan lagi, karena sosok wanita yang lembut, halus, menaati perkataan suami sebagai imamnya, tak ada padanya. Saya hanya bisa mohon ampun pada Allah, juga mengambil hikmah atas kejadian tersebut. Banyk pelajaran yang bisa saya ambil, terutama tentang begitu pentingnya ‘taaruf secara benar’ saat akan menikah. Meskipun melalui perantara yang lain, tetap kitalah yang harus memutuskannya. Kini, alhamdulillah saya sudah menikah lagi, dengan seorang wanita yang begitu lembut dan mau berjuang bersama saya melewati deras ombak pernikahan. Doakan kami, semoga kami bisa membangun cinta kami, selamanya, lillahita’ala. Amin J

The End

Nah, hikmah apa yang bisa Anda ambil dari kisah ini?  :D

0 comments:

Post a Comment