Selamat membaca shalihin dan shalihat,semoga bermanfaat ^_^
Allah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan
langit dan bumi. Di setiap langit ada satu malaikat yang menjaga pintu.
Dari Ibnu Mubarak dan Khalid bin Ma’dan, mereka berkata
kepada Mu’adz bin Jabal, “Mohon ceritakan kepada kami sebuah hadits yang telah
Rasulullah ajarkan kepadamu, yang telah dihafal olehmu dan selalu
diingat-ingatnya karena sangat kerasnya hadits tersebut dan sangat halus serta
dalamnya makna ungkapannya. Hadits manakah yang engkau anggap sebagai hadits
terpenting?”
Mu’adz menjawab, “Baiklah, akan aku ceritakan…” Tiba-tiba
Mu’adz menangis tersedu-sedu. Lama sekali tangisannya itu, hingga beberapa saat
kemudian baru terdiam. Beliau kemudian berkata, “Emh, sungguh aku rindu sekali
kepada Rasulullah. Ingin sekali aku bersua kembali dengan beliau…”. Kemudian
Mu’adz melanjutkan:
Suatu hari ketika aku menghadap Rasulullah Saw. yang suci,
saat itu beliau tengah menunggangi untanya. Nabi kemudian menyuruhku untuk
turut naik bersama beliau di belakangnya. Aku pun menaiki unta tersebut di
belakang beliau. Kemudian aku melihat Rasulullah menengadah ke langit dan
bersabda, “Segala kesyukuran hanyalah diperuntukkan bagi Allah yang telah
menetapkan kepada setiap ciptaan-Nya apa-apa yang Dia kehendaki. Wahai
Mu’adz….!
Labbaik, wahai penghulu para rasul….!
Akan aku ceritakan kepadamu sebuah kisah, yang apabila
engkau menjaganya baik-baik, maka hal itu akan memberikan manfaat bagimu. Namun
sebaliknya, apabila engkau mengabaikannya, maka terputuslah hujjahmu di sisi
Allah Azza wa Jalla….!
Wahai Mu’adz…
Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkati dan Mahatinggi telah
menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan petala langit dan bumi. Pada
setiap langit terdapat satu malaikat penjaga pintunya, dan menjadikan penjaga
dari tiap pintu tersebut satu malaikat yang kadarnya disesuaikan dengan
keagungan dari tiap tingkatan langitnya.
Suatu hari naiklah malaikat Hafadzah dengan amalan seorang
hamba yang amalan tersebut memancarkan cahaya dan bersinar bagaikan matahari.
Hingga sampailah amalan tersebut ke langit dunia (as-samaa’I d-dunya) yaitu
sampai ke dalam jiwanya. Malaikat Hafadzah kemudian memperbanyak amal tersebut
dan
mensucikannya.
Namun tatkala sampai pada pintu langit pertama, tiba-tiba
malaikat penjaga pintu tersebut berkata, “Tamparlah wajah pemilik amal ini
dengan amalannya tersebut!! Aku adalah pemilik ghibah… Rabb Pemeliharaku
memerintahkan kepadaku untuk mencegah setiap hamba yang telah berbuat ghibah di
antara manusia -membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan orang lain yang
apabila orang itu mengetahuinya, dia tidak suka mendengarnya- untuk dapat
melewati pintu langit pertama ini….!!”
Kemudian keesokan harinya malaikat Hafadzah naik ke langit
beserta amal shalih seorang hamba lainnya. Amal tersebut bercahaya yang
cahayanya terus diperbanyak oleh Hafadzah dan disucikannya, hingga akhirnya
dapat menembus ke langit kedua. Namun malaikat penjaga pintu langit kedua
tiba-tiba berkata, “Berhenti kalian…! Tamparlah wajah pemilik amal tersebut
dengan amalannya itu! Sesungguhnya dia beramal namun dibalik amalannya itu dia
menginginkan penampilan duniawi belaka (‘aradla d-dunya).Rabb Pemeliharaku
memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan amalan si hamba yang berbuat itu
melewati langit dua ini menuju langit berikutnya!” Mendengar itu semua, para
malaikat pun melaknati si hamba tersebut hingga petang harinya.
Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan sang hamba
yang nampak indah, yang di dalamnya terdapat shadaqah, shaum-shaumnya serta
perbuatan baiknya yang melimpah. Malaikat Hafadzah pun memperbanyak amal
tersebut dan mensucikannya hingga akhirnya dapat menembus langit pertama dan
kedua. Namun ketika sampai di pintu langit ketiga, tiba-tiba malaikat penjaga
pintu langit tersebut berkata, “Berhentilah kalian…! Tamparkanlah wajah pemilik
amalan tersebut dengan amalan-amalannya itu! Aku adalah penjaga al-Kibr (sifat
takabur). Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk tidak membiarkan
amalannya melewatiku, karena selama ini dia selalu bertakabur di hadapan
manusia ketika berkumpul dalam setiap majelis pertemuan mereka….”
Malaikat Hafadzah lainnya naik ke langit demi langit dengan
membawa amalan seorang hamba yang tampak berkilauan bagaikan kerlip bintang
gemintang dan planet. Suaranya tampak bergema dan tasbihnya bergaung disebabkan
oleh ibadah shaum, shalat, haji dan umrah, hingga tampak menembus tiga langit
pertama dan sampai ke pintu langit keempat. Namun malaikat
penjaga pintu tersebut berkata, “Berhentilah kalian…! Dan tamparkan dengan
amalan-amalan tersebut ke wajah pemiliknya..! Aku adalah malaikat penjaga sifat
‘ujub (takjub akan keadaan jiwanya sendiri). Rabb Pemeliharaku memerintahkan
kepadaku agar ridak membiarkan amalannya melewatiku hingga menembus langit
sesudahku. Dia selalu memasukkan unsur ‘ujub di dalam jiwanya ketika melakukan
suatu perbuatan…!”
Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan seorang hamba
yang diiring bagaikan iringan pengantin wanita menuju suaminya. Hingga
sampailah amalan tersebut menembus langit kelima dengan amalannya yang baik
berupa jihad, haji dan umrah. Amalan tersebut memiliki cahaya bagaikan sinar
matahari.
Namun sesampainya di pintu langit kelima tersebut,
berkatalah sang malaikat penjaga pintu, “Saya adalah pemilik sifat hasad
(dengki). Dia telah berbuat dengki kepada manusia ketika mereka diberi karunia
oleh Allah. Dia marah terhadap apa-apa yang telah Allah ridlai dalam
ketetapan-Nya. Rabb Pemeliharaku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amal
tersebut melewatiku menunju langit berikutnya…!”
Malaikat Hafadzah lainnya naik dengan amalan seorang hamba
berupa wudlu yang sempurna, shalat yang banyak, shaum-shaumnya, haji dan umrah,
hingga sampailah ke langit yang keenam. Namun malaikat penjaga pintu langit
keenam berkata, ‘Saya adalah pemilik ar-rahmat (kasih sayang). Tamparkanlah
amalan
si hamba tersebut ke wajah pemilikinya. Dia tidak memilki
sifat rahmaniah sama sekali di hadapan manusia. Dia malah merasa senang ketika
melihat musibah menimpa hamba lainnya. Rabb Pemeliharaku memerintahkanku untuk
tidak membiarkan amalannya melewatiku menuju langit berikutnya…!’
Naiklah malaikat Hafadzah lainnya bersama amalan seorang
hamba berupa nafkah yang berlimpah, shaum, shalat, jihad dan sifat wara’
(berhati-hati dalam bermal). Amalan tersebut bergemuruh bagaikan guntur dan
bersinar bagaikan bagaikan kilatan petir. Namun ketika sampai pada langit yang
ketujuh, berhentilah amalan tersebut di hadapan malaikat penjaga pintunya.
Malaikat itu berkata, ‘Saya adalah pemilik sebutan (adz-dzikru) atau sum’ah
(mencintai kemasyhuran) di antara manusia. Sesungguhnya pemilik amal ini
berbuat sesuatu karena menginginkan sebutan kebaikan amal
perbuatannya di dalam setiap pertemuan. Ingin disanjung di antara
kawan-kawannya dan mendapatkan kehormatan di antara para pembesar. Rabb
Pemeliharaku memerintahkan aku untuk tidak membiarkan amalannya menembus
melewati pintu langit ini menuju langit sesudahnya. Dan setiap amal yang tidak
diperuntukkan bagi Allah ta’ala secara ikhlas, maka dia telah berbuat riya’,
dan Allah Azza wa Jalla tidak menerima amalan seseorang yang diiringi dengan
riya’ tersebut….!’
Dan malaikat Hafadzah lainnya naik beserta amalan seorang
hamba berupa shalat, zakat, shaum demi shaum, haji, umrah, akhlak yang
berbuahkan hasanah, berdiam diri, berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka seluruh
malaikat di tujuh langit tersebut beriringan menyertainya hingga terputuslah
seluruh hijab dalam menuju Allah Subhanahu. Mereka berhenti di hadapan ar-Rabb
yang Keagungan-Nya (sifat Jalal-Nya) bertajalli. Dan para malaikat tersebut
menyaksikan amal sang hamba itu merupakan amal shalih yang diikhlaskannya hanya
bagi Allah Ta’ala.
Namun tanpa disangka Allah berfirman, ‘Kalian adalah
malaikat Hafadzah yang menjaga amal-amal hamba-Ku, dan Aku adalah Sang
Pengawas, yang memiliki kemampuan dalam mengamati apa-apa yang ada di dalam
jiwanya. Sesungguhnya dengan amalannya itu, sebenarnya dia tidak menginginkan
Aku. Dia menginginkan selain Aku…! Dia tidak mengikhlaskan amalannya bagi-Ku.
Dan Aku Maha Mengetahui terhadap apa yang dia inginkan dari amalannya tersebut.
Laknatku bagi dia yang telah menipu makhluk lainnya dan kalian semua, namun Aku
sama sekali tidak tertipu olehnya. Dan Aku adalah Yang Maha Mengetahui segala
yang ghaib, Yang memunculkan apa-apa yang tersimpan di dalam kalbu-kalbu. Tidak
ada satu pun di hadapan-Ku yang tersembunyi, dan tidak ada yang samar di
hadapan-Ku terhadap segala yang tersamar….. Pengetahuan-Ku terhadap apa-apa
yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang belum
terjadi. Pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang telah berlalu sama dengan
pengetahuan-Ku terhadap yang akan datang. Dan pengetahuan-Ku terhadap segala
sesuatu yang awal sebagaimana pengetahuan-Ku terhadap segala yang akhir. Aku
lebih mengetahui sesuatu yang rahasia dan tersembunyi. Bagaimana mungkin
hamba-Ku menipu-Ku dengan ilmunya. Sesungguhnya dia hanyalah menipu para
makhluk yang tidak memiliki pengetahuan, dan Aku Maha Mengetahui segala yang
ghaib. Baginya laknat-Ku….!!
Mendengar itu semua maka berkatalah para malaikat penjaga
tujuh langit beserta tiga ribu pengiringnya, ‘Wahai Rabb Pemelihara kami,
baginya laknat-Mu dan laknat kami. Dan berkatalah seluruh petala langit,
‘Laknat Allah baginya dan laknat mereka yang melaknat buat sang hamba itu..!
Mendengar penuturan Rasulullah Saw. sedemikian rupa,
tiba-tiba menangislah Mu’adz Rahimahullah, dengan isak tangisnya yang cukup
keras…Lama baru terdiam kemudian dia berkata dengan lirihnya, “Wahai
Rasulullah……Bagaimana bisa aku selamat dari apa-apa yang telah engkau ceritakan
tadi…??”
Rasulullah bersabda, “Oleh karena itu wahai
Mu’adz…..Ikutilah Nabimu di dalam sebuah keyakinan…”.
Dengan suara yang bergetar Mu’adz berkata, “Engkau adalah
Rasul Allah, dan aku hanyalah seorang Mu’adz bin Jabal….Bagaimana aku bisa
selamat dan lolos dari itu semua…??”
Nabi yang suci bersabda, “Baiklah wahai Mu’adz, apabila
engkau merasa kurang sempurna dalam melakukan semua amalanmu itu, maka cegahlah
lidahmu dari ucapan ghibah dan fitnah terhadap sesama manusia, khususnya
terhadap saudara-saudaramu yang sama-sama memegang Alquran. Apabila engkau hendak
berbuat ghibah atau memfitnah orang lain, haruslah ingat kepada
pertanggungjawaban jiwamu sendiri, sebagaimana engkau telah mengetahui bahwa
dalam jiwamu pun penuh dengan aib-aib. Janganlah engkau mensucikan jiwamu
dengan cara menjelek-jelekkan orang lain. Jangan angkat derajat jiwamu dengan
cara menekan orang lain. Janganlah tenggelam di dalam memasuki urusan dunia
sehingga hal itu dapat melupakan urusan akhiratmu. Dan janganlah engkau
berbisik-bisik dengan seseorang, padahal di sebelahmu terdapat orang lain yang
tidak diikutsertakan. Jangan merasa dirimu agung dan terhormat di hadapan
manusia, karena hal itu akan membuat habis terputus nilai kebaikan-kebaikanmu
di dunia dan akhirat. Janganlah berbuat keji di dalam majelis pertemuanmu
sehingga akibatnya mereka akan menjauhimu karena buruknya akhlakmu. Janganlah
engkau ungkit-ungkit kebaikanmu di hadapan orang lain. Janganlah engkau robek
orang-orang dengan lidahmu yang akibatnya engkau pun akan dirobek-robek oleh
anjing-anjing Jahannam, sebagaimana firman-Nya Ta’ala, “Demi yang merobek-robek
dengan merobek yang sebenar-benarnya…” (QS An-Naaziyat [79]: 2) Di neraka itu,
daging akan dirobek hingga mencapat tulang……..
Mendengar penuturan Nabi sedemikian itu, Mu’adz kembali
bertanya dengan suaranya yang semakin lirih, “Wahai Rasulullah, Siapa
sebenarnya yang akan mampu melakukan itu semua….??”
“Wahai Mu’adz…! Sebenarnya apa-apa yang telah aku paparkan
tadi dengan segala penjelasannya serta cara-cara menghindari bahayanya itu
semua akan sangat mudah bagi dia yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala…. Oleh
karena itu cukuplah bagimu mencintai sesama manusia, sebagaimana engkau
mencintai jiwamu sendiri, dan engkau membenci mereka sebagaimana jiwamu
membencinya. Dengan itu semua niscaya engkau akan mampu dan selamat dalam
menempuhnya…..!!”
Khalid bin Ma’dan kemudian berkata bahwa Mu’adz bin Jabal
sangat sering membaca hadits tersebut sebagaimana seringnya beliau membaca
Alquran, dan sering mempelajarinya serta menjaganya sebagaimana beliau
mempelajari dan menjaga Alquran di dalam majelis pertemuannya.
Al-Ghazali Rahimahullah kemudian berkata, “Setelah kalian
mendengar hadits yang sedemikian luhur beritanya, sedemikian besar bahayanya,
atsarnya yang sungguh menggetarkan, serasa akan terbang bila hati mendengarnya
serta meresahkan akal dan menyempitkan dada yang kini penuh dengan huru-hara
yang mencekam. Kalian harus berlindung kepada Rabb-mu, Pemelihara Seru Sekalian
Alam. Berdiam diri di ujung sebuah pintu taubat, mudah-mudahan kalbumu akan
dibuka oleh Allah dengan lemah lembut, merendahkan diri dan berdoa, menjerit
dan menangis semalaman. Juga di siang hari bersama orang-orang yang merendahkan
diri, yang menjerit dan selalu berdoa kepada Allah Ta’ala. Sebab itu semua
adalah sebuah persoalan bersar dalam hidupmu yang kalian tidak akan selamat
darinya melainkan disebabkan atas pertolongan dan rahmat Allah Ta’ala semata.
Dan tidak akan bisa selamat dari tenggelamnya di lautan ini
kecuali dengan hadirnya hidayah, taufiq serta inayah-Nya semata. Bangunlah
kalian dari lengahnya orang-orang yang lengah. Urusan ini harus benar-benar
diperhatikan oleh kalian. Lawanlah hawa nafsumu dalam tanjakan yang menakutkan
ini. Mudah-mudahan kalian tidak akan celaka bersama orang-orang yang celaka.
Dan mohonlah pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala, kapan saja dan dalam kadaan
bagaimanapun. Dialah yang Maha Menolong dengan sebaik-baiknya…
Wa laa haula wa laa quwwata illa billaah…







0 comments:
Post a Comment